Feb 7, 2018

HONG KONG: WHO OWNS EMPLOYEES’ WORK PRODUCT

26 OCTOBER, 2017 · 10:32 AM
HONG KONG: WHO OWNS EMPLOYEES’ WORK PRODUCT
The law recognises that employees may create valuable intellectual property during their employment, ownership of which should ordinarily rest with their employer. The recent case of Acron International Technology Ltd v Chan Yiu Wai[2017] 3 HKLRD 799 demonstrates how the law can protect an employer’s rights in respect of such intellectual property from misappropriation by an employee after the employment relationship ends.

Legal framework
This case involved a claim under section 57 of the Patents Ordinance (PO), which relevantly provides that an invention by an employee shall be taken to belong to his/her employer if it was made in the course of the normal duties of the employee and in circumstances where an invention might reasonably be expected to result from the carrying out of the employee’s duties.
Section 14 of the Copyright Ordinance and section 3(3) of the Registered Designs Ordinance similarly clarify that an employer will be treated as the first owner of the rights in work product of its employees created in the course of employment, unless otherwise agreed by the parties.
The background
Acron International Technology Ltd (Acron) brought proceedings against two former employees over a patent they had secured sometime after their employment ended (the PRC Patent). The invention which was the subject of the PRC Patent was very similar to an invention patented by Acron in 2002, albeit that it had been “fine-tuned” after the pair left their employment and applied for the PRC Patent.
The Court of Appeal agreed with the judge at first instance that the invention over which the PRC Patent had been granted did in fact belong to Acron pursuant to section 57 of the PO, as it was made in the normal course of the defendants’ duties when employed by Acron’s, in circumstances where an invention might reasonably be expected to result from the carrying out of their duties. The fact that it had been further developed by way of “fine-tuning” did not alter that fact.
Accordingly, the Court of Appeal upheld the orders requiring (among other things) that:
1.    the employees assign to Acron the PRC Patent; and
2.    Acron repay the employees the cost of applying for and maintaining the PRC Patent.
In doing so the Court clarified that, for section 57 of the PO to apply, it was not necessary for the employer to show that the particular invention might reasonably be expected to result from the carrying out of the employee’s duties, only that an invention might reasonably be expected. By way of comparison, the Court explained that the employer of a hypothetical research chemist who had been engaged for 10 years to work on a cancer cure but instead came up with a cure for arthritis would still be entitled to any intellectual property rights arising from that work, notwithstanding that the employee’s day to day work was to find a cancer cure. This is because his duty as a research chemist is broader than his day to day work.
Key takeaways

This decision demonstrates the extent to which the law will protect employers in respect of the misappropriation of intellectual property created by employees during the course of their employment, and the remedies that may be available. It also demonstrates the need for employers to anticipate the possibility of intellectual property being created and to take steps to ensure that employee’s duties are properly and accurately defined so as to come within the scope of such protection. Employers might also consider including provisions in the employment contract confirming their ownership of intellectual property created during the employment to avoid any argument that a contrary agreement had been made.

HARAM HUKUMNYA SEORANG MUSLIM MERAYAKAN TAHUN BARU


Oleh: Ustaz K.H. M Shiddiq Al Jawi (Pensyarah STEI Hamfara Yogyakarta, Indonesia)_

Tanya:
Ustaz, bolehkah seorang muslim ikut merayakan tahun baru?

Jawab:
Perayaan tahun baru Masehi (new year’s day, al ihtifal bi rasi as sanah) bukan hari raya umat Islam, melainkan hari raya kaum kafir, khususnya kaum Nashrani. Penetapan 1 Januari sebagai tahun baru yang awalnya diresmikan Kaisar Romawi Julius Caesar (tahun 46 SM), diresmikan ulang oleh pemimpin tertinggi Katolik, yaitu Paus Gregorius XII tahun 1582. Penetapan ini kemudian diadopsi oleh hampir seluruh negara Eropa Barat yang Kristian sebelum mereka mengadopsi kalendar Gregorian tahun 1752. (www.en.wikipedia.org; www.history.com)

Bentuk perayaannya di Barat bermacam-macam, baik berupa ibadah seperti layanan ibadah di gereja (church servives), maupun aktivitas non-ibadah, seperti parade/karnaval, menikmati berbagai hiburan (entertaintment), berolahraga seperti hockey es dan American football (rugby), menikmati makanan tradisional, berkumpul dengan keluarga (family time), dan lain-lain. (www.en.wikipedia.org).

Berdasarkan manath (fakta hukum) tersebut, haram hukumnya seorang muslim ikut-ikutan merayakan tahun baru Masehi. Dalil keharamannya ada 2 (dua); Pertama, dalil umum yang mengharamkan kaum muslimin menyerupai kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar). Kedua, dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir (tasyabbuh bi al kuffaar fi a’yaadihim).

Dalil umum yang mengharamkan menyerupai kaum kafir antara lain firman Allah SWT (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) ‘Raa’ina’ tetapi katakanlah ‘Unzhurna’ dan ‘dengarlah’. Dan bagi orang-orang kafir siksaan yang pedih.” (QS Al Baqarah: 104).

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan mengatakan Allah SWT telah melarang orang-orang yang beriman untuk menyerupai orang-orang kafir dalam ucapan dan perbuatan mereka. Karena orang Yahudi menggumamkan kata ‘ru’uunah’ (bodoh sekali) sebagai ejekan kepada Rasulullah SAW seakan-akan mereka mengucapkan ‘raa’ina’ (perhatikanlah kami). (Tafsir Ibnu Katsir, 1/149).

Ayat-ayat yang semakna ini banyak, antara lain QS Al Baqarah : 120, QS Al Baqarah : 145; QS Ali ‘Imran : 156, QS Al Hasyr: 19; QS Al Jatsiyah : 18-19; dll (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Wail Zhawahiri Salamah, At Tasyabbuh Qawa’iduhu wa Dhawabituhu, hlm. 4-7; Mazhahir At Tasyabbuh bil Kuffar fi Al ‘Ashr Al Hadits, hlm. 28-34).

Dalil umum lainnya sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Ahmad, 5/20; Abu Dawud no 403). Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan sanad hadits ini hasan. (Fathul Bari, 10/271).

Hadits tersebut telah mengharamkan umat Islam menyerupai kaum kafir dalam hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka (fi khasha`ishihim), seperti aqidah dan ibadah mereka, hari raya mereka, pakaian khas mereka, cara hidup mereka, dll. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 12/7; Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As sunnah An Nabawiyyah, hlm. 22-23).

Selain dalil umum, terdapat dalil khusus yang mengharamkan kaum muslimin merayakan hari raya kaum kafir. Dari Anas RA, dia berkata, "Rasulullah SAW datang ke kota Madinah, sedang mereka (umat Islam) mempunyai dua hari yang mereka gunakan untuk bermain-main. Rasulullah SAW bertanya, 'Apakah dua hari ini?’ Mereka menjawab, 'Dahulu kami bermain-main pada dua hari itu pada masa Jahiliyyah.’ Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud, no 1134). Hadits ini dengan jelas telah melarang kaum muslimin untuk merayakan hari raya kaum kafir. (Ali bin Ibrahim ‘Ajjin, Mukhalafatul Kuffar fi As sunnah An Nabawiyyah, hlm. 173).

Berdasarkan dalil-dalil di atas, haram hukumnya seorang muslim merayakan tahun baru, misalnya dengan meniup terompet, menyalakan kembang api, menunggu detik-detik pergantian tahun, memberi ucapan selamat tahun baru, makan-makan, dan sebagainya. Semuanya haram karena termasuk menyerupai kaum kafir _(tasyabuh bil kuffar)_ yang telah diharamkan Islam.

Feb 5, 2018

Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur



Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda (bermaksud):

"Tiada penolong yg lebih utama darjatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya)

Al Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang–orang sibuk dengan kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan. Setelah dikuburkan dan orang–orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.Tetapi si tampan itu berkata: 

”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”*

Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata, “Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan.Jangan kuatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan".. Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la 

(Himpunan Fadhilah Amal : 609)*

Kontrak Kecewa (Frustrated Contract) Bukanlah Suatu Pembelaan Bagi Pihak Yang Menyebabkannya (Self-Induced Frustration).

B.I.G. Industrial Gas Sdn Bhd lwn Pan Wijaya Property Sdn Bhd 
[Rayuan Sivil No. Q-02(W)-809-04/2016]

Mahkamah Rayuan dalam kes B.I.G. Industrial Gas Sdn Bhd lwn Pan Wijaya Property Sdn Bhd [Rayuan Sivil No. Q-02(W)-809-04/2016] melalui penghakiman bertarikh 23.1.2018 telah mengesahkan keputusan Mahkamah Tinggi yang menolak pembelaan Defendan bahawa kontrak jualan hartanah telah menjadi kecewa (frustrated) apabila kebenaran untuk pindahmilik hartanah tersebut ditolak oleh Pihak Berkuasa atas alasan 'tidak dapat dipertimbangkan'. Mahkamah berpendapat bahawa Kontrak Kecewa yang dibangkitkan oleh Defendan sebagai pembelaan adalah disebabkan oleh Defendan sendiri atau 'self-induced frustration'. Mahkamah Rayuan bersetuju dengan Mahkamah Tinggi bahawa Perintah Perlaksanaan Spesifik sekiranya dibenarkan akan melanggar peruntukan undang-undang dan justeru itu diputuskan bahawa gantirugi adalah remedi yang mencukupi. Walaubagaimanapun, berhubung Kaveat Persendirian yang dimasukkan oleh Plaintif, Mahkamah Rayuan  memutuskan bahawa Plaintif tiada lagi kepentingan untuk dipelihara kerana kepentingan tersebut adalah berbentuk kewangan setelah Mahkamah Tinggi menolak permohonan untuk Perintah Perlaksanaan Spesifik dan mengarahkan gantirugi untuk ditaksirkan.

Dalam kes tersebut Plaintif telah memasuki satu Perjanjian Jual Beli [SPA] hartanah dengan Defendan yang merupakan pemilik hartanah tersebut di mana SPA mensyaratkan bahawa baki harga jual beli hendaklah dibayar dalam tempoh 3 bulan sebaik sahaja kebenaran pindahmilik secara bertulis diperolehi dari Director of Lands and Surveys Sarawak. Walaubagaimanapun, setelah permohonan dibuat untuk kebenaran tersebut, ianya telah ditolak dengan alasan 'adalah tidak dapat dipertimbangkan'. Defendan kemudian telah memaklumkan kepada Plaintif bahawa SPA tersebut tidak dapat disempurnakan dan menawarkan untuk memulangkan wang pendahuluan yang dibayar. Plaintif walaubagaimanpun tidak bersetuju dengan tindakan Defendan yang menolak perlaksanaan kontrak tersebut dan meminta Defendan merayu kepada Director of Lands and Surveys Sarawak atas penolakan permohonan kebenaran tersebut tetapi telah ditolak oleh Defendan. 

Mahkamah Tinggi yang mendengar tuntutan Plaintif memutuskan bahawa Defendan gagal membuktikan bahawa kontrak jualan tanah menjadi mustahil untuk dilaksanakan dan berpendapat bahawa penolakan permohonan Defendan untuk kebenaran tersebut tidak menjadikan perlaksanaan SPA mustahil kerana Defendan masih boleh merayu atau membuat permohonan yang sempurna tanpa sebarang kesilapan tetapi Defendan telah memilih untuk tidak melakukannya. Hakim bicara menyatakan, " From the evidence adduced, this Court finds that the initial appeal by the Defendant for the requisite consent was flawed in that the material particulars of the said Land was wrong and that the application was sent to the wrong party. The Defendant ought to have either resubmit another application containing the correct particulars of the said Land and to the proper person or lodged and appeal after rectifying the defects in the initial application. The Defendant decided or omitted to do either. Instead the Defendant then proceeded to repudiate the SPA relying on frustration. This showed that the Defendant had no intention to complete the SPA. Furthermore there was evidence adduced to show that chances of an appeal succeeding is high."  Dapatan ini dipersetujui oleh Mahkamah Rayuan.

Hakim Mohd Zawawi Salleh yang bersidang bersama Hakim-Hakim Ahamadi Hj Asnawi dan Kamardin Hashim dalam menyampaikan keputusan Mahkamah Rayuan menyatakan, " We are persuaded, on the reasons proffered by the learned High Court Judge, that the defendant's refusal to re-submit or appeal to the Director for the requisite consent is self-induced frustration....It is clear therefore, that the doctrine of frustration applies only in circumstances where the supervening event is beyond the control of the parties to the contract. It follows that where the alleged frustrating event is caused by the deliberate act or decision of one of the parties, or by his negligence, the doctrine will not apply." Mahkamah Rayuan merujuk kepada buku Sinnadurai on the Contract Act, A Commentary [2015] di mana penulis menyatakan, " As a general rule, a party cannot rely on the doctrine of frustration as a defence for non-performance of a contract, if he himself had been responsible for bringing about the frustrating event; that is the event which a party relies upon as frustrating his contract must not be self-induced." Rujukan juga dibuat kepada kes Hong Leong Bank Bhd lwn Tan Siew Nam [2014] yang menyatakan, "...the party who seeks to rely on frustration must be a party who is not at fault and no blame can be imputed to him as it is trite law that a self-induced frustration does not discharge a party of his contractual obligations."

Berhubung keputusan Hakim bicara yang enggan memberikan Perintah Perlaksanaan Spesifik, Hakim Zawawi menyatakan, " We are in full agreement with the learned High Court Judge's refusal to grant relief which require express consent which had not been obtained, and should the relief be granted, the performance of which relief would contravene an express provision of the law. We agree that the Court, in the circumstances of the case, should not grant an order of specific performance of the SPA against the defendant. We are mindful that there is a long line of  common law authority that specific performance is the default and appropriate remedy for a contract for the sale and purchase of land...We take the stand that it cannot be assumed that damages for breach of contract for the purchase and sale of immovable property will be an inadequate remedy in all cases. In Union Eagle Ltd v Golden Achievement Ltd [1997] A.C. 514 at 519, the Privy Council observed that, in some circumstances, no distinction could be drawn between land sale contracts and other commercial contracts because 'land can also be an article of commerce and a flat in Hong Kong is probably as goal an example as one could find'. This observation clearly implies that damages could be an adequate remedy in contracts involving land....In this instant appeal, there is no evidence on record to show that the said land is unique in the sense that there is no readily available substitute. The said land has not been uniquely identified by the parties in the SPA or in the trial. We conclude, therefore, that in the circumstances of this instant appeal, damages will be an adequate remedy in the absence of the evidence ti show 'uniqueness' of the said land".

Berhubung keputusan Hakim bicara yang mengekalkan Kaveat Persendirian yang dimasuki Plaintif atas alasan Defendan telah bersetuju melalui Klausa 8 SPA untuk membenarkan Plaintif memasuki Kaveat tersebut, Mahkamah Rayuan tidak bersetuju dan menyatakan, " In our view, since the learned High Court Judge had rejected the application for specific performance in respect of the said land and order the damages to be assessed by the learned Senior Assistant Registrar, the plaintiff's only interest is monetary and the plaintiff no longer had any interest to preserve the caveat. Insofar as the balance of convenience is concerned, it is well established that a critical consideration is the financial status of parties. There is no evidence on record to suggest that the defendant's finances are shaky. We see no reason to believe, and the plaintiff had not suggested, that the defendant would not be financially unable to pay damages should the plaintiff prevails at the assessment of damages proceedings......we find that the balance of convenience is tilted in favour of removing the caveat."

Haji Zanol Rashid Dipanggil Pulang...

Pada awal pagi sabtu, 3 Februari 2018, saya menerima berita daripada sdra Riduan Ibrahim, bahawa sahabat sekuliah (semasa menuntut ijazah pertama bidang undang-undang Universiti Malaya), iaitu Hj Zanol Rashid (jawatan terakhir beliau adalah Hakim Mahkamah Sesyen Sungai Petani), telah meninggal dunia sekitar jam 3.30 pagi 3 Februari 2018 di sebuah hospital swasta di Sungai Petani, kedah. Awal pagi itu saya bergegas ke Masjid Muhajirin, masjid berhampiran rumahnya di Taman Aman Jaya Sungai Petani. Difahamkan beliau lemah jantung dan sesak nafas.
Berikut gambar-gambar kenangan bersama allahyarham


Gambar atas, semasa kenduri perkahwinan anak perempuannya dalam tahun 2017.

Gambar atas, semasa beliau menziarahi seorang lagi sahabat kami yang uzur (Sekeri Mamat) di Damansara Utama.
Gambar kami (kiri, Sdra Abu Bakar Katar, JC Mahkamah Tinggi Alor Setar), saya dan Mohd Riduan Ibrahim di Masjid Muhajirin pada 3 Februari 2018, menunggu untuk solat jenazah allahyarham Zanol. Kita pakat-pakat sedekahkan Al Fatihah kepada Allahyarham, dan sama-sama memaafkan dan menghalalkan beliau atas segalanya.
Sahabat handai saudara mara Allahyarham sedang menunggu Allahyarham dimandikan...


Akan ada giliran kita pula untuk "dipanggil pulang" menghadap yang Maha Esa. Ya Allah, ampunilah kami atas segalanya...

Jan 29, 2018

Penghuni Penumpang

Saya "hilang" seminggu dari rumah saya di Vila Seri Kenanga, Batu Uban, Pulau Pinang (22-28 Januari 2018), dan bila lihat di beranda (tingkat 16), ada penghuni ini yang menumpang...he he he


Pada pagi 4 Februari 2018, saya bercadang nak siram pokok-pokok berpasu tu....tapi bimbang burung tu lari . Akhirnya saya buka pintu cermin tu perlahan-lahan, dan kata kat burung tu..."Mu jangan lari deh...aku nak siram pokok ni jer...". Alhamdulillah dia tak lari semasa saya menyiram pokok-pokok tu...he he he

Pada 28 Februari 2018 merpati ini sudah mendapat anak seekor. Sebiji lagi tak menetas


Jan 25, 2018

Ilmu Tasawuf: Satu Pengenalan


NOTA: Artikel ini dipetik dari satu sumber bebas:

Ilmu Tasawuf: Satu Pengenalan

Bab 1 : Pengenalan

1. Pengertian Ilmu Tasawuf :

Ilmu Tasawuf ialah ilmu yang menyuluh perjalanan seseorang mukmin di dalam membersihkan hati dengan sifat-sifat mahmudah atau sifat-sifat yang mulia dan menghindari atau menjauhkan diri daripada sifat-sifat mazmumah iaitu yang keji dan tercela .

2. Ilmu Tasawuf bertujuan mendidik nafsu dan akal supaya sentiasa berada di dalam landasan dan peraturan hukum syariat Islam yang sebenar sehingga mencapai taraf nafsu mutmainnah .

3. Syarat-syarat untuk mencapai taraf nafsu mutmainah:

a) Banyak bersabar .
b) Banyak menderita yang di alami oleh jiwa .

4. Imam Al-Ghazali r.a. telah menggariskan sepuluh sifat Mahmudah / terpuji di dalam kitab Arbain Fi Usuluddin iaitu :

1) Taubat .

2) Khauf ( Takut )

3) Zuhud

4) Sabar.

5) Syukur.

6) Ikhlas.

7) Tawakkal.

Mahabbah ( Kasih Sayang )

9) Redha.

10) Zikrul Maut ( Mengingati Mati )

5. Dan Imam Al-Ghazali juga telah menggariskan sepuluh sifat Mazmumah / tercela / sifat keji di dalam kitab tersebut iaitu :

1) Banyak Makan

2) Banyak bercakap.

3) Marah.

4) Hasad.

5) Bakhil.

6) Cintakan kemegahan.

7) Cintakan dunia .

Bangga Diri.

9) Ujub ( Hairan Diri ).

10) Riya’ ( Menunjuk-nunjuk ).

Bab 2: Khauf

1. Khauf bererti takut akan Allah s.w.t., iaitu rasa gementar dan rasa gerun akan kekuatan dan kebesaran Allah s.w.t. serta takutkan kemurkaanNya dengan mengerjakan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.

2. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : “Dan kepada Akulah ( Allah ) sahaja hendaklah kamu merasa gerun dan takut bukan kepada sesuatu yang lain”.
( Surah Al-Baqarah – Ayat 40 )

3. Seseorang itu tidak akan merasai takut kepada Allah s.w.t. jika tidak mengenalNya. Mengenal Allah s.w.t. ialah dengan mengetahui akan sifat-sifat ketuhanan dan sifat -sifat kesempurnaan bagi zatNya.

4. Seseorang itu juga hendaklah mengetahui segala perkara yang disuruh dan segala perkara yang ditegah oleh agama.

5. Dengan mengenal Allah s.w.t. dan mengetahui segala perintah dan laranganNya, maka seseorang itu akan dapat merasai takut kepada Allah s.w.t.

6. Rasa takut dan gerun kepada Allah s.w.t. akan menghindarkan seseorang itu daripada melakukan perkara yang ditegah oleh Allah s.w.t. dan seterusnya patuh dan tekun mengerjakan perkara yang disuruhnya dengan hati yang khusyuk dan ikhlas.

Rujukan : Tasauf di Dalam Islam – Datuk Hj.Md.Yunus bin Hj. Md. Yatim.
( Bekas Mufti Negeri Melaka )

Bab 3 : Sifat Redha

1) Sifat redha adalah daripada sifat makrifah dan mahabbah kepada Allah s.w.t.

2) Pengertian redha ialah menerima dengan rasa senang dengan apa yang diberikan oleh Allah s.w.t. baik berupa peraturan ( hukum ) mahupun qada’ atau sesuatu ketentuan daripada Allah s.w.t.

3) Redha terhadap Allah s.w.t terbahagi kepada dua :

Redha menerima peraturan ( hukum ) Allah s.w.t. yang dibebankan kepada manusia.
Redha menerima ketentuan Allah s.w.t. tentang nasib yang mengenai diri.
Redha Menerima hukum Allah s.w.t. :

Redha menerima hukum-hukum Allah s.w.t. adalah merupakan manifestasi daripada kesempurnaan iman, kemuliaan taqwa dan kepatuhan kepada Allah s.w.t. kerana menerima peraturan-peraturan itu dengan segala senang hati dan tidak merasa terpaksa atau dipaksa.

Merasa tunduk dan patuh dengan segala kelapangan dada bahkan dengan gembira dan senang menerima syariat yang digariskan oleh Allah s.w.t. dan Rasulnya adalah memancar dari mahabbah kerana cinta kepada Allah s.w.t. dan inilah tanda keimanan yang murni serta tulus ikhlas kepadaNya.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
” Tetapi tidak ! Demi Tuhanmu, mereka tidak dipandang beriman hingga mereka menjadikanmu ( Muhammad ) hakim dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa sempit dalam hati mereka tentang apa yang engkau putuskan serta mereka menyerah dengan bersungguh – sungguh “. ( Surah An-Nisaa’ : Ayat 65 )

Dan firman Allah s.w.t yang bermaksud :
” Dan alangkah baiknya jika mereka redha dengan apa yang Allah dan Rasulnya berikan kepada mereka sambil mereka berkata : ‘ Cukuplah Allah bagi kami , Ia dan Rasulnya akan berikan pada kami kurnianya ,Sesungguhnya pada Allah kami menuju “.
( Surah At Taubah : Ayat 59 )

Pada dasarnya segala perintah-perintah Allah s.w.t. baik yang wajib mahupun yang Sunnah ,hendaklah dikerjakan dengan senang hati dan redha. Demikian juga dengan larangan-larangan Allah s.w.t. hendaklah dijauhi dengan lapang dada .

Itulah sifat redha dengan hukum-hukum Allah s.w.t. Redha itu bertentangan dengan sifat dan sikap orang-orang munafik atau kafir yang benci dan sempit dadanya menerima hukum-hukum Allah s.w.t.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
” Yang demikian itu kerana sesungguhnya mereka ( yang munafik ) berkata kepada orang-orang yang di benci terhadap apa-apa yang diturunkan oleh Allah s.w.t. ‘Kami akan tuntut kamu dalam sebahagian urusan kamu ‘,Tetapi Allah mengetahui rahsia mereka “. ( Surah Muhammad : Ayat 26 )

Andaikata mereka ikut beribadah, bersedekah atau mengerjakan sembahyang maka ibadah itu mereka melakukannya dengan tidak redha dan bersifat pura-pura. Demikianlah gambaran perbandingan antara hati yang penuh redha dan yang tidak redha menerima hukum Allah s.w.t. , yang mana hati yang redha itu adalah buah daripada kemurnian iman dan yang tidak redha itu adalah gejala nifaq.

Redha Dengan Qada’ :

Redha dengan qada’ iaitu merasa menerima ketentuan nasib yang telah ditentukan Allah s.w.t baik berupa nikmat mahupun berupa musibah ( malapetaka ). Didalam hadis diungkapkan bahawa di antara orang yang pertama memasuki syurga ialah mereka yang suka memuji Allah s.w.t. . iaitu mereka memuji Allah ( bertahmid ) baik dalam keadaan yang susah mahupun di dalam keadaan senang.

Diberitakan Rasulullah s.a.w. apabila memperolehi kegembiraan Baginda berkata :
” Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya menjadi sempurnalah kebaikan “.

Dan apabila kedatangan perkara yang tidak menyenangkan , Baginda mengucapkan :
” Segala puji bagi Allah atas segala perkara “.

Perintah redha menerima ketentuan nasib daripada Allah s.w.t. dijelaskan didalam hadis Baginda yang lain yang bermaksud :

” Dan jika sesuatu kesusahan mengenaimu janganlah engkau berkata : jika aku telah berbuat begini dan begitu, begini dan begitulah jadinya. Melainkan hendakalah kamu katakan : Allah telah mentaqdirkan dan apa yang ia suka , ia perbuat ! ” Kerana sesungguhnya perkataan : andaikata… itu memberi peluang pada syaitan ” . (Riwayat Muslim)

Sikap redha dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah s.w.t. Ketika mendapat kesenangan atau sesuatu yang tidak menyenangkan bersandar kepada dua pengertian :

Pertama : Bertitik tolak dari pengertian bahawa sesungguhnya Allah s.w.t. memastikan terjadinya hal itu sebagai yang layak bagi Dirinya kerana bagi Dialah sebaik-baik Pencipta. Dialah Yang Maha Bijaksana atas segala sesuatu.

Kedua : Bersandar kepada pengertian bahawa ketentuan dan pilihan Allah s.w.t. itulah yang paling baik , dibandingkan dengan pilihan dan kehendak peribadi yang berkaitan dengan diri sendiri.

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :
” Demi Allah yang jiwaku ditangannya !Tidaklah Allah memutuskan sesuatu ketentuan bagi seorang mukmin melainkan mengandungi kebaikan baginya. Dan tiadalah kebaikan itu kecuali bagi mukmin . Jika ia memperolehi kegembiraan dia berterima kasih bererti kebaikan baginya , dan jika ia ditimpa kesulitan dia bersabar bererti kebaikan baginya “.
( Riwayat Muslim )

Tasawwuf > Bab 7 : Sabar

Iaitu menahan diri daripada keluh kesah pada sesuatu yang tidak disukai.
Sifat sabar perlu ketika menghadapi tiga perkara berikut:
1. Menahan diri daripada keluh kesah dan menahan diri daripada mengadu kepada yang lain daripada Allah subhanahu wata‘ala ketika berlaku sesuatu bala atau bencana.

2. Menahan diri dalam mengerjakan segala perintah Allah.

3. Menahan diri dalam meninggalkan segala larangan Allah.

Sifat sabar itu dipuji pada syara‘ kerana seseorang yang bersifat sabar menunjukkan ia beriman dengan sempurna kepada Allah, dan menunjukkan ia taat dan menjunjung segala perintah agama.
Orang yang beriman kepada Allah mengetahui bahawa segala perkara yang berlaku ke atas drinya adalah kehendak Allah yang tidak dapat dielak lagi. Begitulah juga orang yang taat, tidak akan merasa susah dalam mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.
Tasawwuf > Bab 8 : Syukur

Iaitu mengaku dan memuji Allah atas nikmat yang diberi dan menggunakan segala nikmat itu untuk berbuat taat kepada Allah subhanahu wata‘ala.
Tiap-tiap nikmat yang diberi oleh Allah subhanahu wata‘ala kepada makhlukNya adalah dengan limpah kurniaNya semata-mata, seperti nikmat kesihatan, kekayaan, kepandaian dan sebagainya. Oleh yang demikian, bersyukur dan berterima kasih atas nikmat-nikmat tersebut merupakan suatu kewajipan kepada Allah subhanahu wata‘ala.
Setiap nikmat juga hendaklah disyukuri kerana orang yang tidak berterima kasih adalah orang yang tidak mengenang budi. Oleh itu, hendaklah digunakan nikmat-nikmat Allah itu untuk menambahkan ibadah kepada Allah dan sangatlah keji dan hina menggunakan nikmat-nikmat itu untuk menderhakai Tuhan yang memberi nikmat.
Tasawwuf > Bab 9 : Tawakkal

Iaitu menetapkan hati dan berserah kepada Allah pada segala perkara yang berlaku serta jazam (putus) pada i`tiqad bahawa Allah subhanahu wata‘ala yang mengadakan dan memerintahkan tiap-tiap sesuatu.
Berserah kepada Allah pada segala perkara itu hendaklah disertakan dengan ikhtiar dan usaha kerana Allah menjadikan sesuatu mengikut sebab-sebabnya, seperti dijadikan pandai kerana belajar, dijadikan kaya kerana rajin berusaha atau berjimat cermat dan sebagainya.
Tasawwuf > Bab 10 : Mahabbah

Iaitu kasihkan Allah subhanahu wata‘ala dengan mengingatiNya pada setiap masa dan keadaan.
Kasihkan Allah ialah dengan segera melakukan segala perintahNya dan berusaha mendampingkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunat dan bersungguh-sungguh menghindari maksiat serta perkara-perkara yang membawa kemarahanNya.
Tasawwuf > Bab 11 : Zikrulmawt

Iaitu sentiasa mengingati mati dan sentiasa bersedia dengan amalan-amalan yang baik.
Oleh kerana seseorang itu akan mati, maka hendaklah ia bersedia dengan amalan-amalan yang baik dan hendaklah ia memenuhkan tiap-tiap saat daripada umurnya itu dengan perkara yang berfaedah bagi akhiratnya kerana tiap-tiap perkara yang telah lalu tidak akan kembali lagi.
Tasawwuf > Bab 12 : Sifat-sifat Mazmumah

1. Syarrut ta‘am (banyak makan)

Iaitu terlampau banyak makan atau minum ataupun gelojoh ketika makan atau minum.
Makan dan minum yang berlebih-lebihan itu menyebabkan seseorang itu malas dan lemah serta membawa kepada banyak tidur. Ini menyebabkan kita lalai daripada menunaikan ibadah dan zikrullah.
Makan dan minum yang berlebih-lebihan adalah ditegah walaupun tidak membawa kepada lali daripada menunaikan ibadah kerana termasuk di dalam amalan membazir.
2. Syarrul kalam (banyak bercakap)

Iaitu banyak berkata-kata atau banyak bercakap.
Banyak berkata-kata itu boleh membawa kepada banyak salah, dan banyak salah itu membawa kepada banyak dosa serta menyebabkan orang yang mendengar itu mudah merasa jemu.
3. Ghadhab (pemarah)

Ia bererti sifat pemarah, iaitu marah yang bukan pada menyeru kebaikan atau menegah daripada kejahatan.
Sifat pemarah adalah senjata bagi menjaga hak dan kebenaran. Oleh kerana itu, seseorang yang tidak mempunyai sifat pemarah akan dizalimi dan akan dicerobohi hak-haknya.
Sifat pemarah yang dicela ialah marah yang bukan pada tempatnya dan tidak dengan sesuatu sebab yang benar.
4. Hasad (dengki)

Iaitu menginginkan nikmat yang diperolehi oleh orang lain hilang atau berpindah kepadanya.
Seseorang yang bersifat dengki tidak ingin melihat orang lain mendapat nikmat atau tidak ingin melihat orang lain menyerupai atau lebih daripadanya dalam sesuatu perkara yang baik. Orang yang bersifat demikian seolah-olah membangkang kepada Allah subhanahu wata‘ala kerana mengurniakan sesuatu nikmat kepada orang lain.
Orang yang berperangai seperti itu juga sentiasa dalam keadaan berdukacita dan iri hati kepada orang lain yang akhirnya menimbulkan fitnah dan hasutan yang membawa kepada bencana dan kerosakan.
5. Bakhil (kedekut)

Iaitu menahan haknya daripada dibelanjakan atau digunakan kepada jalan yang dituntut oleh agama.
Nikmat yang dikurniakan oleh Allah subhanahu wata‘ala kepada seseorang itu merupakan sebagai alat untuk membantu dirinya dan juga membantu orang lain. Oleh yang demikian, nikmat dan pemberian Allah menjadi sia-sia sekiranya tidak digunakan dan dibelanjakan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata‘ala.
Lebih-lebih lagi dalam perkara-perkara yang menyempurnakan agama seperti zakat, mengerjakan haji dan memberi nafkah kepada tanggungan, maka menahan hak atau harta tersebut adalah suatu kesalahan besar di sisi agama.
6. Hubbul jah (kasihkan kemegahan)

Iaitu kasihkan kemegahan, kebesaran dan pangkat.
Perasaan inginkan kemegahan dan pangkat kebesaran menjadikan perbuatan seseorang itu tidak ikhlas kerana Allah.
Akibat daripada sifat tersebut boleh membawa kepada tipu helah sesama manusia dan boleh menyebabkan seseorang itu membelakangkan kebenaran kerana menjaga pangkat dan kebesaran.
7. Hubbud dunya (kasihkan dunia)

Ia bermaksud kasihkan dunia, iaitu mencintai perkara-perkara yang berbentuk keduniaan yang tidak membawa sebarang kebajikan di akhirat.
Banyak perkara yang diingini oleh manusia yang terdiri daripada kesenangan dan kemewahan. Di antara perkara-perkara tersebut ada perkara-perkara yang tidak dituntut oleh agama dan tidak menjadi kebajikan di akhirat.
Oleh yang demikian, kasihkan dunia itu adalah mengutamakan perkara-perkara tersebut sehingga membawa kepada lalai hatinya daripada menunaikan kewajipan-kewajipan kepada Allah.
Namun begitu, menjadikan dunia sebagai jalan untuk menuju keredhaan Allah bukanlah suatu kesalahan.
8. Takabbur (sombong)

Iaitu membesarkan diri atau berkelakuan sombong dan bongkak.
Orang yang takabbur itu memandang dirinya lebih mulia dan lebih tinggi pangkatnya daripada orang lain serta memandang orang lain itu hina dan rendah pangkat.
Sifat takabbur ini tiada sebarang faedah malah membawa kepada kebencian Allah dan juga manusia dan kadangkala membawa kepada keluar daripada agama kerana enggan tunduk kepada kebenaran.
9. ‘Ujub (bangga diri)

Iaitu merasai atau menyangkakan dirinya lebih sempurna.
Orang yang bersifat ‘ujub adalah orang yang timbul di dalam hatinya sangkaan bahawa dia adalah seorang yang lebih sempurna dari segi pelajarannya, amalannya, kekayaannya atau sebagainya dan ia menyangka bahawa orang lain tidak berupaya melakukan sebagaimana yang dia lakukan.
Dengan itu, maka timbullah perasaan menghina dan memperkecil-kecilkan orang lain dan lupa bahawa tiap-tiap sesuatu itu ada kelebihannya.
10. Riya’ (menunjuk-nunjuk)

Iaitu memperlihatkan dan menunjuk-nunjuk amalan kepada orang lain.
Setiap amalan yang dilakukan dengan tujuan menunjuk-nunjuk akan hilanglah keikhlasan dan menyimpang dari tujuan asal untuk beribadah kepada Allah semata-mata.
Orang yang riya’ adalah sia-sia segala amalannya kerana niatnya telah menyimpang disebabkan inginkan pujian daripada manusia.
Bab 4 : Ikhlas

1. Sifat ikhlas ialah menumpukan niat bagi setiap ibadah atau kerja yang dilakukan semata-mata kerana Allah s.w.t. dan diqasadkan ( niat ) untuk menjunjung perintah semata-mata serta membersihkan hati dari dosa riya’ , ujub atau inginkan pujian manusia.

2. Firman Allah s.w.t. di dalam Al-Quran yang bermaksud :

“ Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah s.w.t. dengan mengikhlaskan ibadah kepadanya , lagi tetap teguh di atas tauhid dan supaya mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat dan yang demikian itulah agama yang benar “.
( Surah Al-Bayyinah – Ayat 5 )

3. Setiap pekerjaan yang dilakukan hendaklah dibersihkan daripada sesuatu tujuan yang lain daripada taat kepada perintah Allah s.w.t.

4. Hendaklah dibersihkan niat daripada sebab-sebab yang lain dari sifat-sifat yang keji ( sifat mazmumah ) seperti riya’ , ujub , inginkan kemasyhuran dan lain-lain lagi.

5. Dalam meninggalkan larangan Allah s.w.t. hendaklah diniatkan untuk taat semata-mata bukan kerana malu kepada makhluk atau sebagainya.

( Rujukan Kitab – Mengenal Ilmu Tasawwuf – Mohd Sulaiman bin Hj. Yasin )

Bab 5 : Taubat

1. Iaitu kembali daripada keburukan kepada kebaikan dengan beberapa syarat yang tertentu.

2. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud :

” Dan mohonlah ampun kepada Allah , sesungguhnya ia Maha
Pengampun lagi Maha Mengasihani ”.
( Surah Al – Muzammil – Ayat 20 )

3. Syarat-syarat taubat adalah seperti berikut :

Meninggalkan maksiat atau perkara dosa tersebut.
Menyesal atas maksiat atau dosa yang telah dilakukan.
Bercita-cita tidak akan mengulanginya lagi.
Mengembalikan hak-hak makhluk yang dizalimi.
Mengerjakan perkara-perkara fardhu yang telah luput.
4. Setiap manusia tidak dapat mengelakkan dirinya daripada tersalah dan terlupa, melainkan manusia yang Ma’asum ( terpelihara daripada dosa ) seperti rasul-rasul dan nabi-nabi.

5. Seseorang itu hendaklah bersungguh-sungguh memelihara diri daripada dosa iaitu dengan memelihara seluruh anggota daripada melakukan perkara-perkara yang ditegah oleh agama.

6. Beberapa faedah dan hikmah taubat iaitu:

Menghidupkan jiwa yang resah kerana dosa.
Mendekatkan diri kepada Allah S.W.T .
Meningkatkan ketaqwaan diri.
Membenteras tipu-daya syaitan yang selama ini memerangkap manusia
dengan berbuat dosa dan maksiat.
Memperolehi kemuliaan dan anugerah Allah S.W.T. dalam hidup di dunia dan akhirat                       ( Dipetik daripada – Hidup Bertaqwa Oleh Dato’ Hj. Ismail bin Hj. Kamus  M / S 269 – 273Ilmu Tasawuf: Satu Pengenalan

Bab 1 : Pengenalan

1. Pengertian Ilmu Tasawuf :

Ilmu Tasawuf ialah ilmu yang menyuluh perjalanan seseorang mukmin di dalam membersihkan hati dengan sifat-sifat mahmudah atau sifat-sifat yang mulia dan menghindari atau menjauhkan diri daripada sifat-sifat mazmumah iaitu yang keji dan tercela .

2. Ilmu Tasawuf bertujuan mendidik nafsu dan akal supaya sentiasa berada di dalam landasan dan peraturan hukum syariat Islam yang sebenar sehingga mencapai taraf nafsu mutmainnah .

3. Syarat-syarat untuk mencapai taraf nafsu mutmainah:

a) Banyak bersabar .
b) Banyak menderita yang di alami oleh jiwa .

4. Imam Al-Ghazali r.a. telah menggariskan sepuluh sifat Mahmudah / terpuji di dalam kitab Arbain Fi Usuluddin iaitu :

1) Taubat .

2) Khauf ( Takut )

3) Zuhud

4) Sabar.

5) Syukur.

6) Ikhlas.

7) Tawakkal.

Mahabbah ( Kasih Sayang )

9) Redha.

10) Zikrul Maut ( Mengingati Mati )

5. Dan Imam Al-Ghazali juga telah menggariskan sepuluh sifat Mazmumah / tercela / sifat keji di dalam kitab tersebut iaitu :

1) Banyak Makan

2) Banyak bercakap.

3) Marah.

4) Hasad.

5) Bakhil.

6) Cintakan kemegahan.

7) Cintakan dunia .

Bangga Diri.

9) Ujub ( Hairan Diri ).

10) Riya’ ( Menunjuk-nunjuk ).

Bab 2: Khauf

1. Khauf bererti takut akan Allah s.w.t., iaitu rasa gementar dan rasa gerun akan kekuatan dan kebesaran Allah s.w.t. serta takutkan kemurkaanNya dengan mengerjakan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.

2. Firman Allah s.w.t. yang bermaksud : “Dan kepada Akulah ( Allah ) sahaja hendaklah kamu merasa gerun dan takut bukan kepada sesuatu yang lain”.
( Surah Al-Baqarah – Ayat 40 )

3. Seseorang itu tidak akan merasai takut kepada Allah s.w.t. jika tidak mengenalNya. Mengenal Allah s.w.t. ialah dengan mengetahui akan sifat-sifat ketuhanan dan sifat -sifat kesempurnaan bagi zatNya.

4. Seseorang itu juga hendaklah mengetahui segala perkara yang disuruh dan segala perkara yang ditegah oleh agama.

5. Dengan mengenal Allah s.w.t. dan mengetahui segala perintah dan laranganNya, maka seseorang itu akan dapat merasai takut kepada Allah s.w.t.

6. Rasa takut dan gerun kepada Allah s.w.t. akan menghindarkan seseorang itu daripada melakukan perkara yang ditegah oleh Allah s.w.t. dan seterusnya patuh dan tekun mengerjakan perkara yang disuruhnya dengan hati yang khusyuk dan ikhlas.

Rujukan : Tasauf di Dalam Islam – Datuk Hj.Md.Yunus bin Hj. Md. Yatim.
( Bekas Mufti Negeri Melaka )

Bab 3 : Sifat Redha

1) Sifat redha adalah daripada sifat makrifah dan mahabbah kepada Allah s.w.t.

2) Pengertian redha ialah menerima dengan rasa senang dengan apa yang diberikan oleh Allah s.w.t. baik berupa peraturan ( hukum ) mahupun qada’ atau sesuatu ketentuan daripada Allah s.w.t.

3) Redha terhadap Allah s.w.t terbahagi kepada dua :

Redha menerima peraturan ( hukum ) Allah s.w.t. yang dibebankan kepada manusia.
Redha menerima ketentuan Allah s.w.t. tentang nasib yang mengenai diri.
Redha Menerima hukum Allah s.w.t. :

Redha menerima hukum-hukum Allah s.w.t. adalah merupakan manifestasi daripada kesempurnaan iman, kemuliaan taqwa dan kepatuhan kepada Allah s.w.t. kerana menerima peraturan-peraturan itu dengan segala senang hati dan tidak merasa terpaksa atau dipaksa.

Merasa tunduk dan patuh dengan segala kelapangan dada bahkan dengan gembira dan senang menerima syariat yang digariskan oleh Allah s.w.t. dan Rasulnya adalah memancar dari mahabbah kerana cinta kepada Allah s.w.t. dan inilah tanda keimanan yang murni serta tulus ikhlas kepadaNya.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
” Tetapi tidak ! Demi Tuhanmu, mereka tidak dipandang beriman hingga mereka menjadikanmu ( Muhammad ) hakim dalam apa yang mereka perselisihkan di antara mereka, kemudian mereka tidak merasa sempit dalam hati mereka tentang apa yang engkau putuskan serta mereka menyerah dengan bersungguh – sungguh “. ( Surah An-Nisaa’ : Ayat 65 )

Dan firman Allah s.w.t yang bermaksud :
” Dan alangkah baiknya jika mereka redha dengan apa yang Allah dan Rasulnya berikan kepada mereka sambil mereka berkata : ‘ Cukuplah Allah bagi kami , Ia dan Rasulnya akan berikan pada kami kurnianya ,Sesungguhnya pada Allah kami menuju “.
( Surah At Taubah : Ayat 59 )

Pada dasarnya segala perintah-perintah Allah s.w.t. baik yang wajib mahupun yang Sunnah ,hendaklah dikerjakan dengan senang hati dan redha. Demikian juga dengan larangan-larangan Allah s.w.t. hendaklah dijauhi dengan lapang dada .

Itulah sifat redha dengan hukum-hukum Allah s.w.t. Redha itu bertentangan dengan sifat dan sikap orang-orang munafik atau kafir yang benci dan sempit dadanya menerima hukum-hukum Allah s.w.t.

Firman Allah s.w.t. yang bermaksud :
” Yang demikian itu kerana sesungguhnya mereka ( yang munafik ) berkata kepada orang-orang yang di benci terhadap apa-apa yang diturunkan oleh Allah s.w.t. ‘Kami akan tuntut kamu dalam sebahagian urusan kamu ‘,Tetapi Allah mengetahui rahsia mereka “. ( Surah Muhammad : Ayat 26 )

Andaikata mereka ikut beribadah, bersedekah atau mengerjakan sembahyang maka ibadah itu mereka melakukannya dengan tidak redha dan bersifat pura-pura. Demikianlah gambaran perbandingan antara hati yang penuh redha dan yang tidak redha menerima hukum Allah s.w.t. , yang mana hati yang redha itu adalah buah daripada kemurnian iman dan yang tidak redha itu adalah gejala nifaq.

Redha Dengan Qada’ :

Redha dengan qada’ iaitu merasa menerima ketentuan nasib yang telah ditentukan Allah s.w.t baik berupa nikmat mahupun berupa musibah ( malapetaka ). Didalam hadis diungkapkan bahawa di antara orang yang pertama memasuki syurga ialah mereka yang suka memuji Allah s.w.t. . iaitu mereka memuji Allah ( bertahmid ) baik dalam keadaan yang susah mahupun di dalam keadaan senang.

Diberitakan Rasulullah s.a.w. apabila memperolehi kegembiraan Baginda berkata :
” Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatnya menjadi sempurnalah kebaikan “.

Dan apabila kedatangan perkara yang tidak menyenangkan , Baginda mengucapkan :
” Segala puji bagi Allah atas segala perkara “.

Perintah redha menerima ketentuan nasib daripada Allah s.w.t. dijelaskan didalam hadis Baginda yang lain yang bermaksud :

” Dan jika sesuatu kesusahan mengenaimu janganlah engkau berkata : jika aku telah berbuat begini dan begitu, begini dan begitulah jadinya. Melainkan hendakalah kamu katakan : Allah telah mentaqdirkan dan apa yang ia suka , ia perbuat ! ” Kerana sesungguhnya perkataan : andaikata… itu memberi peluang pada syaitan ” . (Riwayat Muslim)

Sikap redha dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Allah s.w.t. Ketika mendapat kesenangan atau sesuatu yang tidak menyenangkan bersandar kepada dua pengertian :

Pertama : Bertitik tolak dari pengertian bahawa sesungguhnya Allah s.w.t. memastikan terjadinya hal itu sebagai yang layak bagi Dirinya kerana bagi Dialah sebaik-baik Pencipta. Dialah Yang Maha Bijaksana atas segala sesuatu.

Kedua : Bersandar kepada pengertian bahawa ketentuan dan pilihan Allah s.w.t. itulah yang paling baik , dibandingkan dengan pilihan dan kehendak peribadi yang berkaitan dengan diri sendiri.

Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud :
” Demi Allah yang jiwaku ditangannya !Tidaklah Allah memutuskan sesuatu ketentuan bagi seorang mukmin melainkan mengandungi kebaikan baginya. Dan tiadalah kebaikan itu kecuali bagi mukmin . Jika ia memperolehi kegembiraan dia berterima kasih bererti kebaikan baginya , dan jika ia ditimpa kesulitan dia bersabar bererti kebaikan baginya “.
( Riwayat Muslim )

Tasawwuf > Bab 7 : Sabar

Iaitu menahan diri daripada keluh kesah pada sesuatu yang tidak disukai.
Sifat sabar perlu ketika menghadapi tiga perkara berikut:
1. Menahan diri daripada keluh kesah dan menahan diri daripada mengadu kepada yang lain daripada Allah subhanahu wata‘ala ketika berlaku sesuatu bala atau bencana.

2. Menahan diri dalam mengerjakan segala perintah Allah.

3. Menahan diri dalam meninggalkan segala larangan Allah.

Sifat sabar itu dipuji pada syara‘ kerana seseorang yang bersifat sabar menunjukkan ia beriman dengan sempurna kepada Allah, dan menunjukkan ia taat dan menjunjung segala perintah agama.
Orang yang beriman kepada Allah mengetahui bahawa segala perkara yang berlaku ke atas drinya adalah kehendak Allah yang tidak dapat dielak lagi. Begitulah juga orang yang taat, tidak akan merasa susah dalam mengerjakan segala perintah Allah dan meninggalkan laranganNya.
Tasawwuf > Bab 8 : Syukur

Iaitu mengaku dan memuji Allah atas nikmat yang diberi dan menggunakan segala nikmat itu untuk berbuat taat kepada Allah subhanahu wata‘ala.
Tiap-tiap nikmat yang diberi oleh Allah subhanahu wata‘ala kepada makhlukNya adalah dengan limpah kurniaNya semata-mata, seperti nikmat kesihatan, kekayaan, kepandaian dan sebagainya. Oleh yang demikian, bersyukur dan berterima kasih atas nikmat-nikmat tersebut merupakan suatu kewajipan kepada Allah subhanahu wata‘ala.
Setiap nikmat juga hendaklah disyukuri kerana orang yang tidak berterima kasih adalah orang yang tidak mengenang budi. Oleh itu, hendaklah digunakan nikmat-nikmat Allah itu untuk menambahkan ibadah kepada Allah dan sangatlah keji dan hina menggunakan nikmat-nikmat itu untuk menderhakai Tuhan yang memberi nikmat.
Tasawwuf > Bab 9 : Tawakkal

Iaitu menetapkan hati dan berserah kepada Allah pada segala perkara yang berlaku serta jazam (putus) pada i`tiqad bahawa Allah subhanahu wata‘ala yang mengadakan dan memerintahkan tiap-tiap sesuatu.
Berserah kepada Allah pada segala perkara itu hendaklah disertakan dengan ikhtiar dan usaha kerana Allah menjadikan sesuatu mengikut sebab-sebabnya, seperti dijadikan pandai kerana belajar, dijadikan kaya kerana rajin berusaha atau berjimat cermat dan sebagainya.
Tasawwuf > Bab 10 : Mahabbah

Iaitu kasihkan Allah subhanahu wata‘ala dengan mengingatiNya pada setiap masa dan keadaan.
Kasihkan Allah ialah dengan segera melakukan segala perintahNya dan berusaha mendampingkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunat dan bersungguh-sungguh menghindari maksiat serta perkara-perkara yang membawa kemarahanNya.
Tasawwuf > Bab 11 : Zikrulmawt

Iaitu sentiasa mengingati mati dan sentiasa bersedia dengan amalan-amalan yang baik.
Oleh kerana seseorang itu akan mati, maka hendaklah ia bersedia dengan amalan-amalan yang baik dan hendaklah ia memenuhkan tiap-tiap saat daripada umurnya itu dengan perkara yang berfaedah bagi akhiratnya kerana tiap-tiap perkara yang telah lalu tidak akan kembali lagi.
Tasawwuf > Bab 12 : Sifat-sifat Mazmumah

1. Syarrut ta‘am (banyak makan)

Iaitu terlampau banyak makan atau minum ataupun gelojoh ketika makan atau minum.
Makan dan minum yang berlebih-lebihan itu menyebabkan seseorang itu malas dan lemah serta membawa kepada banyak tidur. Ini menyebabkan kita lalai daripada menunaikan ibadah dan zikrullah.
Makan dan minum yang berlebih-lebihan adalah ditegah walaupun tidak membawa kepada lali daripada menunaikan ibadah kerana termasuk di dalam amalan membazir.
2. Syarrul kalam (banyak bercakap)

Iaitu banyak berkata-kata atau banyak bercakap.
Banyak berkata-kata itu boleh membawa kepada banyak salah, dan banyak salah itu membawa kepada banyak dosa serta menyebabkan orang yang mendengar itu mudah merasa jemu.
3. Ghadhab (pemarah)

Ia bererti sifat pemarah, iaitu marah yang bukan pada menyeru kebaikan atau menegah daripada kejahatan.
Sifat pemarah adalah senjata bagi menjaga hak dan kebenaran. Oleh kerana itu, seseorang yang tidak mempunyai sifat pemarah akan dizalimi dan akan dicerobohi hak-haknya.
Sifat pemarah yang dicela ialah marah yang bukan pada tempatnya dan tidak dengan sesuatu sebab yang benar.
4. Hasad (dengki)

Iaitu menginginkan nikmat yang diperolehi oleh orang lain hilang atau berpindah kepadanya.
Seseorang yang bersifat dengki tidak ingin melihat orang lain mendapat nikmat atau tidak ingin melihat orang lain menyerupai atau lebih daripadanya dalam sesuatu perkara yang baik. Orang yang bersifat demikian seolah-olah membangkang kepada Allah subhanahu wata‘ala kerana mengurniakan sesuatu nikmat kepada orang lain.
Orang yang berperangai seperti itu juga sentiasa dalam keadaan berdukacita dan iri hati kepada orang lain yang akhirnya menimbulkan fitnah dan hasutan yang membawa kepada bencana dan kerosakan.
5. Bakhil (kedekut)

Iaitu menahan haknya daripada dibelanjakan atau digunakan kepada jalan yang dituntut oleh agama.
Nikmat yang dikurniakan oleh Allah subhanahu wata‘ala kepada seseorang itu merupakan sebagai alat untuk membantu dirinya dan juga membantu orang lain. Oleh yang demikian, nikmat dan pemberian Allah menjadi sia-sia sekiranya tidak digunakan dan dibelanjakan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wata‘ala.
Lebih-lebih lagi dalam perkara-perkara yang menyempurnakan agama seperti zakat, mengerjakan haji dan memberi nafkah kepada tanggungan, maka menahan hak atau harta tersebut adalah suatu kesalahan besar di sisi agama.
6. Hubbul jah (kasihkan kemegahan)

Iaitu kasihkan kemegahan, kebesaran dan pangkat.
Perasaan inginkan kemegahan dan pangkat kebesaran menjadikan perbuatan seseorang itu tidak ikhlas kerana Allah.
Akibat daripada sifat tersebut boleh membawa kepada tipu helah sesama manusia dan boleh menyebabkan seseorang itu membelakangkan kebenaran kerana menjaga pangkat dan kebesaran.
7. Hubbud dunya (kasihkan dunia)

Ia bermaksud kasihkan dunia, iaitu mencintai perkara-perkara yang berbentuk keduniaan yang tidak membawa sebarang kebajikan di akhirat.
Banyak perkara yang diingini oleh manusia yang terdiri daripada kesenangan dan kemewahan. Di antara perkara-perkara tersebut ada perkara-perkara yang tidak dituntut oleh agama dan tidak menjadi kebajikan di akhirat.
Oleh yang demikian, kasihkan dunia itu adalah mengutamakan perkara-perkara tersebut sehingga membawa kepada lalai hatinya daripada menunaikan kewajipan-kewajipan kepada Allah.
Namun begitu, menjadikan dunia sebagai jalan untuk menuju keredhaan Allah bukanlah suatu kesalahan.
8. Takabbur (sombong)

Iaitu membesarkan diri atau berkelakuan sombong dan bongkak.
Orang yang takabbur itu memandang dirinya lebih mulia dan lebih tinggi pangkatnya daripada orang lain serta memandang orang lain itu hina dan rendah pangkat.
Sifat takabbur ini tiada sebarang faedah malah membawa kepada kebencian Allah dan juga manusia dan kadangkala membawa kepada keluar daripada agama kerana enggan tunduk kepada kebenaran.
9. ‘Ujub (bangga diri)

Iaitu merasai atau menyangkakan dirinya lebih sempurna.
Orang yang bersifat ‘ujub adalah orang yang timbul di dalam hatinya sangkaan bahawa dia adalah seorang yang lebih sempurna dari segi pelajarannya, amalannya, kekayaannya atau sebagainya dan ia menyangka bahawa orang lain tidak berupaya melakukan sebagaimana yang dia lakukan.
Dengan itu, maka timbullah perasaan menghina dan memperkecil-kecilkan orang lain dan lupa bahawa tiap-tiap sesuatu itu ada kelebihannya.
10. Riya’ (menunjuk-nunjuk)

Iaitu memperlihatkan dan menunjuk-nunjuk amalan kepada orang lain.
Setiap amalan yang dilakukan dengan tujuan menunjuk-nunjuk akan hilanglah keikhlasan dan menyimpang dari tujuan asal untuk beribadah kepada Allah semata-mata.
Orang yang riya’ adalah sia-sia segala amalannya kerana niatnya telah menyimpang disebabkan inginkan pujian daripada manusia.
Bab 4 : Ikhlas

1. Sifat ikhlas ialah menumpukan niat bagi setiap ibadah atau kerja yang dilakukan semata-mata kerana Allah s.w.t. dan diqasadkan ( niat ) untuk menjunjung perintah semata-mata serta membersihkan hati dari dosa riya’ , ujub atau inginkan pujian manusia.

2. Firman Allah s.w.t. di dalam Al-Quran yang bermaksud :

“ Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah s.w.t. dengan mengikhlaskan ibadah kepadanya , lagi tetap teguh di atas tauhid dan supaya mereka mendirikan sembahyang dan memberi zakat dan yang demikian itulah agama yang benar “.
( Surah Al-Bayyinah – Ayat 5 )

3. Setiap pekerjaan yang dilakukan hendaklah dibersihkan daripada sesuatu tujuan yang lain daripada taat kepada perintah Allah s.w.t.

4. Hendaklah dibersihkan niat daripada sebab-sebab yang lain dari sifat-sifat yang keji ( sifat mazmumah ) seperti riya’ , ujub , inginkan kemasyhuran dan lain-lain lagi.

5. Dalam meninggalkan larangan Allah s.w.t. hendaklah diniatkan untuk taat semata-mata bukan kerana malu kepada makhluk atau sebagainya.

( Rujukan Kitab – Mengenal Ilmu Tasawwuf – Mohd Sulaiman bin Hj. Yasin )

Bab 5 : Taubat

1. Iaitu kembali daripada keburukan kepada kebaikan dengan beberapa syarat yang tertentu.

2. Firman Allah S.W.T. yang bermaksud :

” Dan mohonlah ampun kepada Allah , sesungguhnya ia Maha
Pengampun lagi Maha Mengasihani ”.
( Surah Al – Muzammil – Ayat 20 )

3. Syarat-syarat taubat adalah seperti berikut :

Meninggalkan maksiat atau perkara dosa tersebut.
Menyesal atas maksiat atau dosa yang telah dilakukan.
Bercita-cita tidak akan mengulanginya lagi.
Mengembalikan hak-hak makhluk yang dizalimi.
Mengerjakan perkara-perkara fardhu yang telah luput.
4. Setiap manusia tidak dapat mengelakkan dirinya daripada tersalah dan terlupa, melainkan manusia yang Ma’asum ( terpelihara daripada dosa ) seperti rasul-rasul dan nabi-nabi.

5. Seseorang itu hendaklah bersungguh-sungguh memelihara diri daripada dosa iaitu dengan memelihara seluruh anggota daripada melakukan perkara-perkara yang ditegah oleh agama.

6. Beberapa faedah dan hikmah taubat iaitu:

Menghidupkan jiwa yang resah kerana dosa.
Mendekatkan diri kepada Allah S.W.T .
Meningkatkan ketaqwaan diri.
Membenteras tipu-daya syaitan yang selama ini memerangkap manusia
dengan berbuat dosa dan maksiat.
Memperolehi kemuliaan dan anugerah Allah S.W.T. dalam hidup di dunia dan akhirat                      
(Dipetik daripada – Hidup Bertaqwa Oleh Dato’ Hj. Ismail bin Hj. Kamus  M / S 269 – 273)